Jumat, 27 Maret 2009

Disiplin berawal dari pendidikan

selamat sore teman-teman pembaca sekalian. Ini adalah tulisan yang mengungkapkan sebuah pengalaman pribadi aji. Berawal ketika saya selalu melihat pemandanganyang kurang mengenakan. Pemandangan itu ialah kebiasaan melawan arus dalam berkendaraan. Peristiwa ini saya lihat hampir setiap hari, baik ketika saya berangkat bekerja maupun ketika pulang kantor. Yang lebih miris lagi,jika kita peringkatkan atau terjadi sesuatu karena mereka melawan arah. mereka nih yang melawan arah tak sadar mereka sudah salah sedari awal akan marah2 bahkan ngajak berkelahi. susahkan kalo begini?
nah kalo begini. apa yang menjadi penyebab mereka melawan arah?karena kalo lewat jalur sebenarnya jauh?nyawanya punya serep banyak?ga bisa baca rambu?atau kurang terdidik?kalaupun terdidik, mereka dididik untuk cari gampangnya, bukan mencari amannya berkendara?.
apa kaitannya pendidikan dengan disiplin?kalau menurut saya, pendidikan di indonesia mengajarkan kita untuk kalo bisa dikerjain di sekolah atau orang lain trus kita bayar kenapa ga, kemudian kalo bisa nyogok untuk bisa naik kelas atau lulus kenapa ga. kemudian solusi apa yang bisa kita berikan supaya peristiwa tidak disiplin yang membahayakan ini tidak terjadi. saya akan berpikir mulailah kita mendidik diri kita sendiri dan generasi berikutnya untuk belajar berdisiplin. langkah selanjutnya ialah dari mana kita memulainya. saya berpendapat institusi pendidikanlah yang pertama2 harus diperbaiki. mulai dari yang paling dasar hingga pendidikan tinggi. pertanyaan selanjutnya ialah mampukah pendidkan tinggi kita mendidik manusia indonesia untuk berdisiplin. jawaban saya, bisa. karena hal itu tergantung kemauan kita dan tentunya dari siapa kita belajar. saya membaca sebuah artikel di media massa, bahwa kalo kita ingin maju, maka belajarlah dari orang lain. kalo bangsa kita ingin maju, maka tak salah kalo kita belajar ke negara yang lain dimana pendidkannya lebih maju, contohnya negara Jerman. pendidkan tinggi disana mengajarkan kemandirian, disiplin tinggi dan tentunya disertai integritas dari penyelengara pendidkan dan pemerintahnya yang mendukung pendidikan tersebut. bagaimana dengan di indonesia, sudah mahal, kurang integritas dari pendidik(dengan berbagai macam alasan) serta kurangnya dukungan pemerintah(coba lihat berapa biaya yg harus di keluarkan untuk masuk kuliah,besar banget bukan?) nah bandingkan dengan biaya pendidikan di Jerman yang rata2 masih sekita 500 euro atau kalo dirupiahkan sekita 7,5juta/semester bandingkan dengan disini. memang yang kurang dari segitu juga masih ada tapi berapa banyak n sampai kapan? trus kalo kita bertanya kualitasnya, dengan biaya yg hampir sama kemudian dibandingkan dengan fasilitas utama dan pendukung misalkan diskon buat mahasiswa untuk tiket kereta api, bus dan yang lain, belum lagi dengan kualitas pengajar yang mayoritas berpengalaman.
nah kalo kita misalkan mempunyai kemampuan menyekolahkan anak kita ke luar negeri, kenapa ga.dengan ini kita berharap, anak kita nanti mempunyai kemandirian serta disiplin tinggi pula. tentunya sebelumnya kita harus memberikan pengetahuan serta pemahaman yang kuat terlebih dahulu.

Selasa, 17 Maret 2009

kuliah di Jerman 7,5 juta/semester(SPP)?

ga percaya ma judul diatas. baik mari kita buktikan sama2. 1. kita lihat biaya kuliah di indo berapa. Inget artikel dibawah hanya menyantumkan bisa masuknya saja dan belum termasuk biaya kuliah yang lain misalkan uang SKS, BOP, praktek dan lain2

sekarang mari kita lihat kalo kuliah di jerman berapa dan apa saja yang harus kita keluarkan

percayakan? Artikel ini merupakan pengalaman langsung dari yang pernah kuliah di jerman

masih penasaran pa ja keuntungan kuliah di jerman. Buruan hubungi kami, tanya apa ja n buruan gabung ke stufen coz kesempatan terbatas