Selasa, 19 Juni 2012

Tips Perjalanan dan Menetap di Jerman


Informasi dan Tips Perjalanan ke Jerman
Karakteristik dasar bangsa Jerman adalah sikap monokromik mereka dalam masalah waktu, contohnya mereka akan mengerjakan satu pekerjaan tertentu hingga selesai secara tuntas sebelum pindah ke pekerjaan lainnya. Mereka akan jujur dan terus terang dalam bernegosiasi, cenderung berbicara secara blak-blakan serta menyatakan ketidaksetujuannya secara terbuka, mereka juga tidak suka diburu-buru.

Mereka termasuk bangsa yang peduli. Jangan kaget jika tetangga atau teman (Jerman) melancarkan kritikan atau menegur secara langsung apabila kita melakukan kesalahan, menimbulkan kebisingan, atau memasak masakan dengan bau yang menyengat.

Di Jerman, melakukan pengawasan terhadap ketertiban umum merupakan “kewajiban” setiap warga masyarakat. Pada umumya mereka mempunyai kemampuam bahasa asing dengan baik (terutama Inggris dan Perancis), namun sering kurang pengetahuannya tentang budaya asing. Dalam berkomunikasi dengan bangsa lain, sedapat mungkin mereka lebih suka berbahasa Jerman.

Monumen Reinwardt kembali bersinar

Prasasti ahli botani Jerman C.G.K. Reinwardt
Prasasti ahli botani Jerman C.G.K. Reinwardt(© Herwig Zahorka)    
Dibiayai oleh Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, monumen dari Caspar Georg Karl Reinwardt, pendiri Kebun Raya di Bogor, yang terletak tidak jauh dari kota Jakarta, baru-baru ini dibuatkan papan keterangan yang baru.
   
Kebun Raya Bogor sejak dibangun pada tahun 1817 dikenal di dunia. Reinwardt adalah salah satu ilmuwan pertama di antara sekian banyak ilmuwan Jerman, yang bekerja dan meneliti di Bogor. Bahkan Johann Wolfgang von Goethe mempunyai hubungan dekat dengan pengganti Reinwardt, Ludwig von Blume. Hingga hari ini terjalin  hubungan erat antara Bogor dengan para ilmuwan dan ahli botani asal Jerman.
Monumen tersebut dibuat pada tahun 2006 atas inisiatif ahli Botani asal Jerman, yang hidup di Bogor, Herwig Zahorka.





Rabu, 13 Juni 2012

Jerman Menyediakan Dana Bagi Restorasi Borobudur

Dengan dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, pemerintah Republik Federal Jerman dan UNESCO mensahkan kelanjutan kerja sama untuk merestorasi salah satu candi Buddha yang terpenting di dunia.

Jerman Menyediakan Dana Bagi Restorasi Borobudur
Duta Besar Dr. Baas (3 dari kiri) dan Perwakilan dari UNESCO Dr. Gijzen (3 dari kanan)
menyerahkan Kesepakatan antara pemerintah Republik Federal Jerman
dan UNESCO yang dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (tengah)

(© Kedutaan Jerman / Glaschke)
 
Dari dana bantuan bagi pelestarian budaya Kementerian Luar Negeri Jerman sebanyak 106.000 Euro disediakan bagi kegiatan lanjutan yang akan dilaksanakan oleh UNESCO bagi pelestarian Candi Borobudur, yang sejak tahun 1991 termasuk dalam Situs Warisan Budaya Dunia-UNESCO. Sudah sejak tahun lalu Jerman menyediakan dana hampir 40.000 Euro bagi proyek ini.

Selasa, 05 Juni 2012

Mitos-Mitos Tentang Studi di Jerman


Berkaitan dengan studi di Jerman, banyak orang meyakini mitos-mitos tertentu yang cenderung menyesatkan. Beberapa diantara mitos-mitos tersebut diantaranya:  
  1. Hidup di Jerman serba enak dan mudah.

    Hal ini tidak selamanya benar. Memang benar bahwa Jerman adalah negara maju yang hidupnya serba makmur dan teratur. Akan tetapi tidak berarti bahwa mahasiswa hidup enak-enak.

    Disini mahasiswa justru dituntut untuk bekerja keras dan mandiri. Hal ini bisa sangat berat, khususnya bagi calon mahasiswa yang terbiasa hidup serba enak di Indonesia. Tidak ada lagi supir dan pembantu yang siap mengerjakan apa yang kita minta. Tidak ada lagi mobil serta fasilitas lainnya yang selama di Indonesia barangkali dengan mudah bisa didapatkan.

    Benar bahwa kuliah di Jerman serba bebas, akan tetapi kebebasan ini juga bisa berakibat fatal bila mahasiswa tidak bisa mendisiplinkan diri sendiri.

Jumat, 01 Juni 2012

Kaffee und Kuchen – A Delectable and Sociable Tradition

Cakes on Display © picture-alliance / dpa
Bakeries and cafés display their colorful
cakes in glass cases.
(© picture-alliance / dpa )
In between lunch and dinner, there is traditionally a short break for a social gathering around a piece of cake or two and a hot steaming cup of coffee or tea. This ritual is referred to as Kaffee und Kuchen, Kaffeetrinken, or Kaffeeklatsch.

These days, it is still quite common to get together with friends and family on Sunday afternoon between 3:00 and 5:00 p.m. to share some cake and good conversation.

Whether the gathering takes place at someone’s home or in a café or a confectionary shop, this tradition is a long-standing one in Germany. Records show that cakes have been baked in Germany for some 400 years.
Schwarzwälder Kirschtorte © picture-alliance / dpa
The Schwarzwälder Kirschtorte is made with Kirschwasser,
or cherry brandy,
which is produced in the Black Forest.
(© picture-alliance / dpa)

A good number of German cakes have achieved international popularity. Some of the most popular tortes are also among the most elaborate. The Schwarzwälder Kirschtorte (Black Forest cake) is a chocolate layer cake filled with whipped cream and Kirschwasser-soaked cherries and decorated with whipped cream, chocolate shavings, and cherries.

The Frankfurter Kranz is a white bundt cake layered with buttercream and sometimes also a red jam. The exterior is covered in buttercream and candied nuts before being adorned with cherries. Other people favor cheese cakes and cream cakes for special occasions. The most delightfully named cake would have to be the Bienenstich (bee sting cake), which refers to its honey and nut topping.

Despite its popularity in the US, the so-called German Chocolate Cake with its nutty coconut topping is, however, not a German cake. Invented by a woman in Texas in 1957, the cake takes its name from German’s Sweet Chocolate, a chocolate created by an American baker named Samuel German in 1852.